PENDAHULUAN
Rumput laut secara ekonomi menjadi
penting karena mengandung senyawa polisakarida. Polisakarida rumput laut yang
paling komersial hingga saat ini yaitu jenis karaginan, alginat dan agar
agarose yang merupakan fraksi dari agar. Keempat jenis polisakarida alga ini
merupakan produk industri (Satari, 1996). Polisakarida dari beberapa alga laut juga telah
diketahui memiliki aktivitas biologi potensial yang berhubungan
dengan farmakologi (Cristiane et al.,
2006). Masing-masing polisakarida alga laut mempunyai aktivitas fisiologis
berbeda yang mencakup pencegah pembekuan darah, antihyperlipidemic, antiviral,
dan antitumor (Zhang et al., 2003). Adanya
kemampuan yang berhubungan dengan bidang farmakologi pada polisakarida alga
laut ini disebabkan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder. Metabolit
sekunder merupakan bioactive substances
yang dikembangkan melalui berbagai penelitian untuk dijadikan obat alternatif.
Salah satu metabolit adalah fukoidan yaitu suatu komponen biologi aktif yang
menarik untuk dikaji (Shevchenko et al.,
2007). Fukoidan mempunyai komposisi yang sangat kompleks. Fukoidan mengandung
senyawa seperti α-L-fucose, sulfate, dan asam asetat. Pada fucose terdapat
xylose, galactose, mannose, dan asam glucuronic (Bilan et al., 2007).
Fucoidan atau fucoidin adalah senyawa garam kalsium dari karbohidrat ester sulfat dengan rumus umum C6H9O3.SO4.
Dikemukakan bahwa molekul fukoidin secara umum mengandung kira-kira 38,3%
sulfat, 56,7% L-fukosa dan 8,2% ion logam. Pada jenis rumput coklat Himanthalia
terkandung 57% fukosa, 4% galaktosa, 15% xylosa, 3% asam uronat, sedangkan pada
jenis Pelvetia canaliculata terkandung 35% fukosa, 3% glukosa, 22% galaktosa,
6% arabinosa. Secara umum rumput laut coklat mengandung 31-72% fukosa, 5-31%
galaktosa, 3-29% xylosa. (Chapman dan Chapman, 1980).
Dalam
penelitian sebelumnya, ekstrak polisakarida kaya dari Sargassum filipendula
C.Agardh menunjukkan efek antiproliferatif signifikan terhadap sel HeLa (Costa et al., 2010). Sel Hela adalah
sel yang berasal
dari sel-sel kanker serviks yang diambil dari seorang penderita kanker
serviks bernama Henrietta Lacks. Sel
ini bersifat imortal
dan produktif sehingga banyak
digunakan dalam penelitian ilmiah. Fukoidan
telah dipelajari secara ekstensif karena
aktivitas biologis yang terkandung didalamnya seperti : anticoagulant,
antihrombotic, dan antitumor (Zyyagintseva et al., 2003).
Fucoidan pada penelitian ini diasumsikan sebagai
senyawa yang akan bersifat toksik terhadap sel kanker HeLa. Oleh karena itu
dilakukan uji toksisitas fucoidan terlebih dahulu menggunakan larva udang Artemia salina Leach. Senyawa yang
diduga memiliki aktivitas anti kanker, harus di ujikan terlebih dahulu pada
hewan percobaan. Metode Brine Shrimp
Lethality Test (BSLT) menggunakan larva udang Artemia salina Leach sebagai hewan uji coba. Hasil uji toksisitas
dengan metode ini telah terbukti memiliki korelasi dengan daya sitotoksis
senyawa anti kanker. Selain itu, metode ini juga mudah dikerjakan, murah, cepat
dan cukup akurat (Meyer et al., 1982). Tujuan dari penelitian ini
adalah
untuk mengetahui pengaruh pemberian
ekstrak kasar fucoidan dengan empat perlakuan dosis
berbeda terhadap viabilitas sel kanker HeLa dan untuk mengetahui berapakah dosis ekstrak kasar fucoidan
yang terbaik dalam menghasilkan persentase viabilitas terendah sel kanker HeLa.
METODOLOGI
Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah alga coklat Sargassum
filipendula dalam keadaan segar yang diperoleh dari Pulau
Talango, Kabupaten Sumenep, Madura. Bahan-bahan yang digunakan untuk ekstraksi fucoidan
adalah etanol 85%, CaCl 2%, HCl 0,01 mol L-1 pH 2 dan kertas Whatman nomor 40. Untuk bahan pengujian
toksisitas yaitu menggunakan larva udang Artemia
salina Leach yang berumur 48 jam, aquades, air laut dan ekstrak kasar fucoidan dengan dosis ekstrak 1000 ppm, 200 ppm, 100
ppm dan 50 ppm. Sedangkan bahan yang digunakan dalam pengujian sel kanker
adalah sel HeLa yang diperoleh dari Laboratorium Biomedik, Fakultas Kedokteran,
Universitas Brawijaya, Malang. Kemudian bahan yang digunakan untuk uji
viabilitas sel HeLa meliputi media Trypan
Blue, Trypsin EDTA, PBSA dan EDTA
0,02 %.
Alat-alat yang digunakan meliputi alat
untuk proses ekstraksi, yaitu water Bath,
beaker glass 600 ml, gelas ukur 50 ml, spatula, sentrifus suhu ruang, sentrifus tube,
Erlenmeyer 500 ml, botol vial dan pipet tetes. Alat yang digunakan untuk uji toksisitas ekstrak kasar fucoidan yaitu kaca pembesar, botol vial, pipet ukur,
bola hisap, beaker glass 250 ml,
timbangan digital dan aerator. Selain itu, alat-alat yang digunakan untuk uji
viabilitas sel HeLa ialah Laminer Air
Flow (LAF), spuit 10 cc, disposable pipet, disposable filter 0,2 µm,
sarung tangan, masker, sentrifus tube
1,5 cc dan 15 cc, plate cultur (96 well), inkubator CO2, blue tip, yellow tip, sentrifus suhu
ruang, autoclave, mikroskop inverted,
haemacytometer, mikropipet, dan counter.
Metode
Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode eksperimen melalui perlakuan dosis
ekstrak kasar fucoidan dengan jumlah masing-masing sebanyak 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml. Penelitian
dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sederhana dengan 1 faktor dosis
ekstrak yang terdiri dari 4 level dan 3 kali ulangan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis sidik ragam.
Ekstraksi
Fucoidan
· Pengeringan
Pengeringan adalah suatu metode
untuk mengurangi jumlah kandungan kadar air didalam suatu bahan pangan dengan
cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Penurunan
kandungan air biasanya dilakukan sampai mencapai kadar air tertentu sehingga
enzim dan mikroba penyebab kerusakan bahan pangan menjadi tidak aktif atau mati
(Marliyati et al., 1992). Proses
pengeringan diawali dengan menggunakan sinar matahari tidak langsung selama 10
jam, kemudian diangin-anginkan lagi pada suhu kamar (27°C) selama 24 jam agar
kadar airnya berkurang sehingga memudahkan untuk dihaluskan.
· Penggilingan Sargassum
filipendula
Penggilingan Alga Coklat Sargassum filipendula menggunakan Grinding Machine selama ±5 menit sehingga
didapatkan serbuk Sargassum filipendula berwarna coklat tua. Proses penggilingan ini bertujuan untuk memperluas
permukaan agar memudahkan dalam pengambilan senyawa-senyawa aktif yang
terkandung serta untuk memudahkan dalam proses maserasi.
· Depigmentasi
dan Deproteinasi Sargassum filipendula dengan
Pelarut Etanol
Serbuk Sargassum
filipendula ditimbang menggunakan timbangan digital berketelitian 0,01
gram. Kemudian serbuk dimasukkan kedalam erlenmeyer 600ml lalu ditambahkan
pelarut polar etanol 85% dengan perbandingan sampel : pelarut (1 :6),
setelah itu direndam selama 24 jam agar terjadi penguraian warna atau
depigmentasi. Setelah itu dilakukan penyaringan menggunakan kain saring, dan
didapatkan filtrat dan residu. Filtrat pada tahap ini tidak digunakan dalam
artian dibuang, sedangkan residu yang didapat akan diekstraksi kembali dengan
etanol 85% dengan perbandingan sampel :pelarut (1 :6). Kemudian dipanaskan
dalam waterbath dengan suhu 70°C dan
diaduk menggunakan spatula setiap 1-2 jam selama 10 jam, setelah itu disaring
menggunakan kain saring dan didapatkan residu. Pada tahap ini didapatkan residu
yang akan diekstraksi lebih lanjut menjadi fucoidan.
· Ekstraksi
Supernatan
Residu hasil
depigmentasi dengan etanol 85% ditambahkan dengan pelarut CaCl2 2% dengan
perbandingan sampel :pelarut (1 :6), kemudian dipanaskan didalam waterbath pada suhu 70°C dan diaduk
setiap 1-2 jam selama 9 jam. Selanjutnya disentrifuse dengan
kecepatan 3000 rpm selama 15 menit kemudian disaring menggunakan kain saring sehingga
didapatkan residu dan filtrat. Residu ini
diekstraksi kembali menggunakan pelarut HCl 0,01 M pH 2 dengan perbandingan
sampel :pelarut (1 :6), kemudian dipanaskan didalam waterbath dengan suhu 70°C dan diaduk
setiap 1-2 jam selama 9 jam. Selanjutnya disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm
selama 15 menit kemudian disaring menggunakan kertas Whatman No. 40 sehingga
didapatkan filtrat (Fucoidan) dan residu.
Parameter Uji
Parameter uji yang
dilakukan meliputi penentuan kadar air dan kadar abu Sargassum filipendula, identifikasi senyawa
dengan FTIR dan spektrofotometer UV-Vis, Uji toksisitas ekstrak kasar fucoidan
dan Uji ekstrak kasar fucoidan terhadap viabilitas sel HeLa
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Ekstrak
Kasar Fucoidan
dari Alga Coklat Sargassum filipendula
Karakteritik ekstrak kasar fucoidan meliputi
kadar air dan kadar abu ekstrak kasar fucoidan Sargassum filipendula, identifikasi senyawa dengan FTIR dan
spektrofotometer UV-Vis. Karakteristik ekstrak kasar fucoidan dari
Alga coklat Sargassum filipendula dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel Karakteristik Ekstrak Kasar
Fucoidan Alga coklat Sargassum filipendula
Parameter
|
Ekstrak
kasar fucoidan
|
Alga
Coklat Segar *
|
Kadar
Air (%)
|
99,25 %
|
11,71%
|
Kadar
Abu (%)
|
0,28 %
|
34,57%
|
Rendemen
(%BK)
|
1,15 %
|
-
|
Panjang
Gelombang (nm)
|
261 nm
|
-
|
FTIR
- OH
(Hidroksil)
- C=O
(Karbonil)
- SO4
(Ester Sulfat)
|
3446.45cm-1
1639.38 cm-1
1014.49 cm-1 ;10.54.99 cm-1
|
-
-
-
|
Sumber: Lab. Kimia Jurusan Kimia FMIPA, Lab.
Biomedik FK Unibraw Malang.
*(Yunizal,
1999)
Toksisitas
Ekstrak Kasar Fucoidan dari Alga Coklat Sargassum Filipendula
Nilai
LC50 merupakan konsentrasi dimana zat menyebabkan
kematian 50% yang diperoleh dengan menggunakan persamaan garis y = bx + a. Berdasarkan
persamaan garis yang didapatkan yaitu y = 1,235x + 2,161 dapat diketahui LC50 (Lethal Concentration) yang bertujuan untuk menentukan pada
konsentrasi berapakah ekstrak kasar fucoidan dapat
menyebabkan kematian Artemia Salina L.
sebesar 50%. LC50 dari ekstrak kasar fucoidan terhadap hewan uji Artemia Salina L. adalah 198,96 ppm atau <1000ppm. Suatu
ekstrak dianggap sangat toksik bila memiliki nilai LC50 di bawah 30 ppm, dianggap toksik bila
memiliki nilai LC50 30-1000
ppm dan dianggap tidak toksik bila nilai LC50 di atas 1000 ppm (Meyer et al., 1982). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ekstrak fucoidan Sargassum filipendula bersifat sangat
toksik terhadap Artemia salina Leach.
Hasil Uji Pengaruh Ekstrak Kasar
Fucoidan
dari Alga Coklat Sargassum Filipendula Terhadap
Sel Hela
Ø Ciri
– ciri sel yang mati dan yang hidup
Uji
pengaruh ekstrak
kasar fucoidan terhadap sel hela dilakukan
dengan metode langsung. Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan larutan
trypan blue pada setiap sumuran agar dapat membedakan sel yang
hidup dan yang mati. Ciri – ciri sel yang mati
akan terlihat
berwarna gelap atau biru dan bentuknya tidak bulat lagi karena mengalami lisis sehingga protein dalam
plasmanya akan berikatan dengan biru trypan sehingga sel menjadi berwarna biru.
Sedangkan
ciri – ciri sel yang hidup masih terlihat
berbentuk bulat, jernih dan lebih terang karena tidak mengalami kerusakan pada
membran selnya. Jumlah sel HeLa yang
mati dan yang hidup dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel Jumlah sel
HeLa yang
hidup dan yang mati
Dosis
Ekstrak Kasar Fucoidan (µg/ml)
|
Keterangan
|
Jumlah
(sel/ml)
|
0
|
Mati
|
-
|
Hidup
|
101.104 ± 8,02
|
|
5
|
Mati
|
7.104 ± 2,00
|
Hidup
|
74.104 ± 18,18
|
|
10
|
Mati
|
11.104 ± 2,31
|
Hidup
|
48.104 ± 12,12
|
|
20
|
Mati
|
27.104 ± 7,64
|
Hidup
|
21.104 ± 2,65
|
|
Dosis ekstrak kasar fucoidan yang
digunakan pada uji viabilitas yaitu 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml dengan kandungan air sebesar 99,25%.
Pembuatan dosis 5 µg/ml membutuhkan 5 µg ekstrak kasar fukoidan dalam 100ml
media, sedangkan pembuatan dosis 10 µg/ml membutuhkan 10 µg dalam 100ml media
dan untuk pembuatan dosis 20 µg membutuhkan 10 µg dalam 100ml media.
Ø Pengaruh
Dosis Ekstrak Kasar Fucoidan Terhadap Viabilitas dan Kematian Sel Hela
Persentase (%) viabilitas sel hela didapatkan dari pembagian jumlah sel yang hidup dengan
total seluruh sel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase viabilitas
rata-rata
dari larutan ekstrak uji dengan dosis 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml secara
berturut-turut adalah 100%; 90,81%; 80,69% dan 47,78%. Data
tersebut menunjukkan bahwa viabilitas sel HeLa setelah diinkubasi selama 24 jam
mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya konsentrasi larutan uji.
Berdasarkan perhitungan analisis keragaman, didapatkan hasil bahwa F hitung lebih besar
dibandingkan F
tabel 5%. Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kasar fucoidan dari Alga Coklat Sargassum filipendula dengan empat perlakuan dosis berbeda berpengaruh
nyata dalam menurunkan persentase (%) viabilitas sel HeLa. Persentase viabilitas sel hela yang
terpapar ekstrak kasar fucoidan dapat dilihat dalam diagram batang pada Gambar
3.
Pada Gambar di atas terlihat bahwa
hasil terendah persentase (%) viabilitas sel hela terdapat pada dosis 20 µg/ml
dan hasil tertinggi persentase (%) viabilitas sel Hela pada dosis 0 µg/ml. Hal
ini menunjukkan bahwa semakin besar pemberian dosis maka persentase (%)
viabilitas sel Hela semakin menurun. Hasil analisis BNT 5% sebesar 8,45, pada
dosis 0 µg/ml; 5 µg/ml, 10 µg/ml ; 20 µg/ml
diperoleh secara berturut-turut notasi d, c, b dan a. Berdasarkan hasil notasi
tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kasar fucoidan dari dosis 0 µg/ml berbeda nyata dengan 5 µg/ml ; 10 µg/ml ; 20 µg/ml,
untuk dosis 5 µg/ml berbeda nyata
dengan 0 µg/ml ; 10 µg/ml ;
20 µg/ml, untuk dosis 10 µg/ml
berbeda nyata dengan 0 µg/ml ; 5µg/ml; 20 µg/ml dan dosis 20 µg/ml berbeda nyata dengan ; 0 µg/ml ; 5 µg/ml ; 10 µg/ml. Menurut
(Pudji et al., 2000), ekstrak spons
laut A. suberitoides yang diujikan
terhadap viabilitas sel HeLa selama 24 jam dengan konsentrasi 33,491 µg/ml ,
66,983 µg/ml dan 133,967 µg/ml memiliki
persen viabilitas secara berurutan yaitu 62,579%, 55,486% dan 52,551%. Dari
penelitian tersebut didapatkan persen viabilitas terendah pada konsentrasi
133,967 µg/ml dengan persentase 52,551% sebagai hasil terbaik. Persentase kehidupan dari ekstrak spon laut A. suberitoides masih lebih tinggi dibandingkan ekstrak kasar fucoidan Sargassum
filipendula. Oleh karena itu ekstrak kasar fucoidan dari Sargassum
filipendula bekerja lebih baik sebagai zat antikanker terhadap sel
HeLa apabila dibandingkan ekstrak spons laut A. suberitoides.
Zat antikanker yang dihasilkan dari
tanaman, terutama produk alamiah seperti ekstrak, mempunyai mekanisme yaitu
menghambat proses mitosis pada metafase. Zat aktif yang terdapat pada ekstrak tanaman
obat tersebut akan terikat pada protein mikrotubular, tepatnya tubulin pada
GTP, dan akan menghambat kemampuan tubulin untuk berpolimerasi membentuk
mikrotubulus sehingga menghambat pemisahan kromosom dan proliferasi (Tjay Rahardja,
2002). Aktivitas sebagai antikanker ini
disebabkan adanya gugus OH− pada yang berikatan dengan protein integral membran
sel. Ikatan tersebut menyebabkan terbendungnya transpor Na+ dan K+ sehingga
pemasukan ion Na+ ke dalam sel tidak terkendali dan menyebabkan pecahnya membran
sel. Pecahnya membran sel inilah yang menyebabkan kematian sel (Scheuer, 1994). Tanaman yang dijadikan sebagai
antitumor atau antikanker harus mengandung senyawa metabolit sekunder yang
aktif dengan 3 sifat yaitu antitoksik, sitostatik, dan antiangiogenesis. Sifat
antitoksik adalah kemampuan untuk mengeliminasi keganasan racun yang dihasilkan
oleh sel-sel tumor, sedangkan sifat sitostatik merupakan kemampuan metabolit
sekunder dalam menghambat pertumbuhan sel tumor dan melisis sel-sel tumor
(Murakami et al. 1996). Sifat antiangiogenesis ialah kemampuan untuk
memutuskan pasokan makanan dan oksigen dengan menghentikan aliran darah (Hanahan dan Weinberg
2000).
Persentase (%) kematian sel hela didapatkan dari 100% dikurangi persentase viabilitas
sel hela. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase kematian rata-rata dari larutan ekstrak uji dengan konsentrasi
dosis 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml secara
berturut-turut adalah 0%; 9,19%; 19,31% dan 52,22%. Data tersebut menunjukkan bahwa kematian sel HeLa setelah diinkubasi selama 24 jam mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya konsentrasi larutan uji.
Berdasarkan perhitungan analisis keragaman
didapatkan hasil bahwa F hitung lebih besar
dibandingkan F tabel 5%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kasar fucoidan dari Alga Coklat Sargassum filipendula dengan
empat perlakuan dosis berbeda berpengaruh nyata dalam meningkatkan persentase (%)
kematian sel HeLa.
Persentase kematian sel Hela yang terpapar ekstrak kasar fucoidan dapat dilihat
dalam diagram batang pada Gambar 4.
Pada Gambar 4 terlihat bahwa hasil terendah
persentase (%) kematian sel Hela terdapat pada dosis 0 µg/ml dan hasil
tertinggi persentase (%) kematian sel Hela pada dosis 20 µg/ml. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin besar pemberian dosis ekstrak maka persentase (%)
kematian sel Hela semakin meningkat. Hasil analisis BNT 5% sebesar 8,45, pada
dosis 0 µg/ml ; 5 µg/ml ; 10 µg/ml ; 20 µg/ml diperoleh secara berturut-turut notasi a, b, c dan d.
Berdasarkan hasil notasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak
kasar fucoidan dari dosis 0 µg/ml
berbeda nyata dengan 5 µg/ml ; 10 µg/ml ; 20 µg/ml
, untuk dosis 5 µg/ml berbeda nyata dengan 0 µg/ml ; 10 µg/ml ; 20 µg/ml
, untuk dosis 10 µg/ml berbeda nyata 0 µg/ml
; 5 µg/ml ; 20 µg/ml
dan dosis 20 µg/ml berbeda nyata dengan
; 0 µg/ml ; 5 µg/ml
; 10 µg/ml.
KESIMPULAN
- Karakteristik
ekstrak kasar fucoidan yaitu kadar air sebesar 99,25%, kadar abu sebesar 0,28%,
rendemen sebesar 1,15% (BK), panjang gelombang UV-Vis sebesar 261 nm, spektrum
infrared ikatan O-H pada panjang gelombang 3446.45cm-1, ikatan C=O
pada panjang gelombang 1639.38 cm-1 dan gugus sulfat pada panjang
gelombang 1014.49 cm-1 dan 10.54.99 cm-1
- Pemberian
ekstrak kasar fukoidan Alga Coklat Sargassum filipendula mampu membunuh dan menghambat aktivitas sel kanker Hela dengan dosis ekstrak kasar
fucoidan yang terbaik dalam menghasilkan persentase (%) viabilitas terendah sel
Hela dan persentase (%) kematian sel Hela tertinggi yaitu pada dosis 20 µg/ml
dimana dengan jumlah rata-rata persentase (%) viabilitas sel Hela sebesar 47,78
% dan rata-rata persentase (%) kematian
sel Hela sebesar 52,22%.
DAFTAR
PUSTAKA
Bilan M .I , A. N. Zakharova, A. A. Grachev, A. S.
Shashkov, N.E. Nifantiev, and A. I. Usov. 2006. Fucoidan From The Pacific Brownalga Analipus
Japonicus ( Harv.) Winne. Journal Of Polysaccharides Of Algae: 60.
Bilan,
M.I., A.N Zakharova ., A.A.Grachev., A.S.Shashkov., N.E. Nifantiev., A.I. Usov.
2007. Polysaccharides of algae: 60. Fucoidan from
the pacific brown alga Analipus japonicus (Harv.) winne (Ectocarpales,
Scytosiphonaceae). Russ. J.
Bioorg. Chem., 33, 38–46.
Chapman,V.D., J. Chapman. 1980. Seaweed and Their Uses. 3 Edition.
Chapman and Hall. London.
Costa, L.S., G.P.
Fidelis., S.L.Cordeiro., R.M.Oliveira., D.A.Sabry., R.B.G. Câmara.,
L.T.D.B.,Nobre.,
M.S.S.P. Costa., J.L. Almeida., E.H.C.
Farias., E.L.
Leite.,
H.A.O. Rocha.
2010. Biological activities of sulfated polysaccharides from
tropical seaweeds. Biomed. Pharmacother. 64, 21–28.
Cristiane,M.R., De
Souza., C.T.
Marques ., D.C. M.
Guerra., . F. R. F. Da
Silva., Rocha, And .E. L. Leite.
2006. Antioxidant Activities Of
Sulphated Polysaccharides From Brown And Red Seaweeds. Springer Science +
Business Media B.
Djajanegara,
I dan W. Prio. 2009. Pemakaian Sel Hela
dalam Uji Sitoktosisitas Fraksi Kloroform dan Etanol Ekstrak Daun Annona
squamosa. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. Hal 7-11
Hadi,
A. 2009. Spektrofotometri. Erlangga,
Jakarta
Hanahan,
D dan R.A. Weinberg. 2000. The Hallmarks
of Cancer. J Cell 100:57-70.
Khurniasari,
D. W. 2004. Potensi Antikanker Senyawa
Bioaktif Ekstrak Kloroform dan Metanol Makroalgae Sargasssum duplicatum J,
Agard. Skripsi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.
Jogjakarta
Meyer,
B.N., N.R. Ferrigni., J.E. Putnam., L.B. Jacobson., D.E. Nicholas.,
J.L.Laugnin. 1982. Brine shrimp ; A
Convident General Bioassay for Active plant Constituent, Plant. Medica.
31:34-45.
Murakami,
A., A. Ohogasi ., K. Koshimazu. 1996. Anti
tumor promotion with food phitochem: a strategi for cancer chemofrevention.
J perfumer and flavorist. 9:
27-29.
Pudji,
A.D.N., Sukardiman., H,T. Fadjri. 2000. Uji Sitotoksisitas Dan Efek Ekstrak
Spons Laut Aaptos Suberitoides Terhadap Sel Kanker Serviks (Hela) Secara In
Vitro. Hal 1-15
Rehma, N. 2012. Prinsip
kerja spektrofotometer. http://rehmannisa. blogspot.com/2012/04/tipe-instrumen -spektrofotometer.html.
Diakses tanggal 17 Juni 2012
Pukul 12.00 WIB.
Rioux L. E., S. L. Turgeon., M. Beaulieu. 2007.
Journal Of Charcterization Of Polysaccarides Extracted From Brown
Seaweeds. Institute Des
Nutraceutiques Et’ Des Aliments Factionels, Faculte’ Des Sciences De’
Agriculture Et De’ Alimentation, Universite Laval. Que. Canada.
Satari,
R. 1996. Potensi Pemanfaatan Rumput Laut.
Puslitbang oseanografi – LIPI. Jakarta. Hal 152
Scheuer,
J. S. 1994. Produk Alami Lautan.
Cetakan pertama. IKIP Semarang Press. Semarang.Hanahan weinberg 2000
Shevchenko,
N.M.., T.A. Kuznetsova., N.N. Besednova., A.N. Mamaev., A.P.Momot.,
T.N.Zvyagintseva. 2003. Anticoagulant activity of fucoidan from
brown algae Fucus evanescens of the Okhotsk sea. Bull. Exp. Biol. Med. 136, 471-473.
Subyakto,
2003. Toksikologi Jilid III. Bina
Cipta Jakarta. 127 hal
Sudarmadji,
S.B.Haryono dan Suhardi, 1992. Prosedur
Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian, Liberty, Yogyakarta.
Tjay, T
dan K. Rahardja. 2002. Obat-Obat
Penting, Penggunaan Dan Efek-Efek Sampingnya. Ed V. Jakarta : Dirjen POM
Depkes RI, hal. 197-8, 206-17
Yunizal. 1999. Teknologi
Pengolahan Alginat. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Zhang,
Q., L. Ning ., L. Xiguang.,Z.
Zengqin., L. Zhien
And X. Zuhong.
2003. The Structure Of A Sulfated Galactan
From Porphyra Haintanensisand Its In Vivo Antioxidant Activity. Institute
Of Oceanology, Chinese Academy Of Sciences, Qingdao 266071, Prchina.
Zvyagintsevaa, T.N., N.M.Shevchenko.,
A O. Chizhovb, T.N. Krupnovac, E. V. Sundukovaa., And V. V. Isakova. 2003. Water-Soluble Polysaccharides Of Some
Far-Eastern Brown Seaweed. Distibution, Structure, And Their Dependence On The
Developmental Conditiions. Journal Of Experimental Marine Biology And
Ecology 294 (2003) 1-13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar