Minggu, 05 Mei 2013

PENGARUH EKSTRAK KASAR FUKOIDAN ALGA COKLAT Sargassum filipendula SEBAGAI ANTIKANKER TERHADAP VIABILITAS SEL HELA


PENDAHULUAN
        Rumput laut secara ekonomi menjadi penting karena mengandung senyawa polisakarida. Polisakarida rumput laut yang paling komersial hingga saat ini yaitu jenis karaginan, alginat dan agar agarose yang merupakan fraksi dari agar. Keempat jenis polisakarida alga ini merupakan produk industri (Satari, 1996).  Polisakarida dari beberapa alga laut juga telah diketahui memiliki aktivitas biologi potensial yang berhubungan dengan farmakologi (Cristiane et al., 2006). Masing-masing polisakarida alga laut mempunyai aktivitas fisiologis berbeda yang mencakup pencegah pembekuan darah, antihyperlipidemic, antiviral, dan antitumor (Zhang et al., 2003). Adanya kemampuan yang berhubungan dengan bidang farmakologi pada polisakarida alga laut ini disebabkan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder. Metabolit sekunder merupakan bioactive substances yang dikembangkan melalui berbagai penelitian untuk dijadikan obat alternatif. Salah satu metabolit adalah fukoidan yaitu suatu komponen biologi aktif yang menarik untuk dikaji (Shevchenko et al., 2007). Fukoidan mempunyai komposisi yang sangat kompleks. Fukoidan mengandung senyawa seperti α-L-fucose, sulfate, dan asam asetat. Pada fucose terdapat xylose, galactose, mannose, dan asam glucuronic (Bilan et al., 2007).
        Fucoidan atau fucoidin adalah senyawa garam kalsium dari karbohidrat ester sulfat dengan rumus umum C6H9O3.SO4. Dikemukakan bahwa molekul fukoidin secara umum mengandung kira-kira 38,3% sulfat, 56,7% L-fukosa dan 8,2% ion logam. Pada jenis rumput coklat Himanthalia terkandung 57% fukosa, 4% galaktosa, 15% xylosa, 3% asam uronat, sedangkan pada jenis Pelvetia canaliculata terkandung 35% fukosa, 3% glukosa, 22% galaktosa, 6% arabinosa. Secara umum rumput laut coklat mengandung 31-72% fukosa, 5-31% galaktosa, 3-29% xylosa. (Chapman dan Chapman, 1980).
      Dalam penelitian sebelumnya, ekstrak polisakarida kaya dari Sargassum filipendula C.Agardh menunjukkan efek antiproliferatif signifikan terhadap sel HeLa (Costa et al., 2010). Sel  Hela  adalah  sel  yang  berasal  dari sel-sel kanker serviks yang diambil dari seorang penderita  kanker  serviks  bernama  Henrietta Lacks.  Sel  ini  bersifat  imortal  dan  produktif sehingga  banyak  digunakan  dalam  penelitian ilmiah. Fukoidan telah dipelajari secara ekstensif  karena aktivitas   biologis yang terkandung  didalamnya seperti : anticoagulant, antihrombotic, dan antitumor   (Zyyagintseva et al., 2003).
         Fucoidan pada penelitian ini diasumsikan sebagai senyawa yang akan bersifat toksik terhadap sel kanker HeLa. Oleh karena itu dilakukan uji toksisitas fucoidan terlebih dahulu menggunakan larva udang Artemia salina Leach. Senyawa yang diduga memiliki aktivitas anti kanker, harus di ujikan terlebih dahulu pada hewan percobaan. Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva udang Artemia salina Leach sebagai hewan uji coba. Hasil uji toksisitas dengan metode ini telah terbukti memiliki korelasi dengan daya sitotoksis senyawa anti kanker. Selain itu, metode ini juga mudah dikerjakan, murah, cepat dan cukup akurat (Meyer et al., 1982).   Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kasar fucoidan dengan empat perlakuan dosis berbeda terhadap viabilitas sel kanker HeLa dan untuk mengetahui berapakah dosis ekstrak kasar fucoidan yang terbaik dalam menghasilkan persentase viabilitas terendah sel kanker HeLa.

METODOLOGI
Bahan dan Alat
         Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alga coklat Sargassum filipendula dalam keadaan segar yang diperoleh dari Pulau Talango, Kabupaten Sumenep, Madura. Bahan-bahan yang digunakan untuk ekstraksi fucoidan adalah etanol 85%, CaCl 2%, HCl 0,01 mol L-1 pH 2 dan kertas Whatman nomor 40. Untuk bahan pengujian toksisitas yaitu menggunakan larva udang Artemia salina Leach yang berumur 48 jam, aquades, air laut dan ekstrak kasar fucoidan dengan dosis ekstrak 1000 ppm, 200 ppm, 100 ppm dan 50 ppm. Sedangkan bahan yang digunakan dalam pengujian sel kanker adalah sel HeLa yang diperoleh dari Laboratorium Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya, Malang. Kemudian bahan yang digunakan untuk uji viabilitas sel HeLa meliputi media Trypan Blue, Trypsin EDTA, PBSA dan EDTA 0,02 %.
     Alat-alat yang digunakan meliputi alat untuk proses ekstraksi, yaitu water Bath, beaker glass  600 ml, gelas ukur 50 ml, spatula, sentrifus suhu ruang, sentrifus tube, Erlenmeyer 500 ml, botol vial dan pipet tetes. Alat yang digunakan untuk uji toksisitas ekstrak kasar fucoidan yaitu kaca pembesar, botol vial, pipet ukur, bola hisap, beaker glass 250 ml, timbangan digital dan aerator. Selain itu, alat-alat yang digunakan untuk uji viabilitas sel HeLa ialah Laminer Air Flow (LAF), spuit 10 cc, disposable pipet, disposable filter  0,2 µm, sarung tangan, masker, sentrifus tube 1,5 cc dan 15 cc, plate cultur (96 well), inkubator CO2, blue tip, yellow tip, sentrifus suhu ruang, autoclave, mikroskop inverted, haemacytometer, mikropipet, dan counter.
Metode Penelitian
         Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen melalui perlakuan dosis ekstrak kasar fucoidan dengan jumlah masing-masing sebanyak 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sederhana dengan 1 faktor dosis ekstrak yang terdiri dari 4 level dan 3 kali ulangan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis sidik ragam.

Ekstraksi Fucoidan 
·         Pengeringan
       Pengeringan adalah suatu metode untuk mengurangi jumlah kandungan kadar air didalam suatu bahan pangan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Penurunan kandungan air biasanya dilakukan sampai mencapai kadar air tertentu sehingga enzim dan mikroba penyebab kerusakan bahan pangan menjadi tidak aktif atau mati (Marliyati et al., 1992). Proses pengeringan diawali dengan menggunakan sinar matahari tidak langsung selama 10 jam, kemudian diangin-anginkan lagi pada suhu kamar (27°C) selama 24 jam agar kadar airnya berkurang sehingga memudahkan untuk dihaluskan.
·        Penggilingan Sargassum filipendula
Penggilingan Alga Coklat Sargassum filipendula menggunakan Grinding Machine selama ±5 menit sehingga didapatkan serbuk Sargassum filipendula berwarna coklat tua. Proses penggilingan ini bertujuan untuk memperluas permukaan agar memudahkan dalam pengambilan senyawa-senyawa aktif yang terkandung serta untuk memudahkan dalam proses maserasi.
·      Depigmentasi dan Deproteinasi Sargassum filipendula dengan Pelarut Etanol
       Serbuk Sargassum filipendula ditimbang menggunakan timbangan digital berketelitian 0,01 gram. Kemudian serbuk dimasukkan kedalam erlenmeyer 600ml lalu ditambahkan pelarut polar etanol 85% dengan perbandingan sampel : pelarut (1 :6), setelah itu direndam selama 24 jam agar terjadi penguraian warna atau depigmentasi. Setelah itu dilakukan penyaringan menggunakan kain saring, dan didapatkan filtrat dan residu. Filtrat pada tahap ini tidak digunakan dalam artian dibuang, sedangkan residu yang didapat akan diekstraksi kembali dengan etanol 85% dengan perbandingan sampel :pelarut (1 :6). Kemudian dipanaskan dalam waterbath dengan suhu 70°C dan diaduk menggunakan spatula setiap 1-2 jam selama 10 jam, setelah itu disaring menggunakan kain saring dan didapatkan residu. Pada tahap ini didapatkan residu yang akan diekstraksi lebih lanjut menjadi fucoidan.
·      Ekstraksi Supernatan
      Residu hasil depigmentasi dengan etanol 85% ditambahkan dengan pelarut CaCl2 2% dengan perbandingan sampel :pelarut (1 :6), kemudian dipanaskan didalam waterbath pada suhu 70°C dan diaduk setiap 1-2 jam selama 9 jam. Selanjutnya disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit kemudian disaring menggunakan kain saring sehingga didapatkan residu  dan filtrat. Residu ini diekstraksi kembali menggunakan pelarut HCl 0,01 M pH 2 dengan perbandingan sampel :pelarut (1 :6), kemudian dipanaskan didalam waterbath dengan suhu 70°C dan diaduk setiap 1-2 jam selama 9 jam. Selanjutnya disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit kemudian disaring menggunakan kertas Whatman No. 40 sehingga didapatkan filtrat (Fucoidan) dan residu



Parameter Uji
Parameter uji yang dilakukan meliputi penentuan kadar air dan kadar abu Sargassum filipendula, identifikasi senyawa dengan FTIR dan spektrofotometer UV-Vis, Uji toksisitas ekstrak kasar fucoidan dan Uji ekstrak kasar fucoidan terhadap viabilitas sel HeLa


HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Ekstrak Kasar Fucoidan dari Alga Coklat Sargassum filipendula
      Karakteritik ekstrak kasar fucoidan meliputi kadar air dan kadar abu ekstrak kasar fucoidan Sargassum filipendula, identifikasi senyawa dengan FTIR dan spektrofotometer UV-Vis. Karakteristik  ekstrak  kasar  fucoidan dari Alga coklat Sargassum filipendula dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel Karakteristik Ekstrak Kasar Fucoidan Alga coklat Sargassum filipendula
Parameter
Ekstrak kasar fucoidan
Alga Coklat Segar *
Kadar Air (%)
99,25 %
11,71%
Kadar Abu (%)
0,28 %
34,57%
Rendemen (%BK)
1,15 %
-
Panjang Gelombang (nm)
261 nm
-
FTIR
-       OH (Hidroksil)
-       C=O (Karbonil)
-       SO4 (Ester Sulfat)

3446.45cm-1
1639.38 cm-1
1014.49  cm-1 ;10.54.99 cm-1

-
-
-
Sumber:  Lab. Kimia Jurusan Kimia FMIPA, Lab. Biomedik FK Unibraw Malang. 
                *(Yunizal, 1999) 

Toksisitas Ekstrak Kasar Fucoidan dari Alga Coklat Sargassum Filipendula

                                                                                                                                                      
 
        Nilai LC50 merupakan konsentrasi dimana zat menyebabkan kematian 50% yang diperoleh dengan menggunakan persamaan garis y = bx + a. Berdasarkan persamaan garis yang didapatkan yaitu y = 1,235x + 2,161 dapat diketahui LC50 (Lethal Concentration) yang bertujuan untuk menentukan pada konsentrasi berapakah ekstrak kasar fucoidan dapat menyebabkan kematian Artemia Salina L. sebesar 50%. LC50 dari ekstrak kasar fucoidan terhadap hewan uji Artemia Salina L. adalah 198,96 ppm atau <1000ppm. Suatu ekstrak dianggap sangat toksik bila memiliki nilai LC50 di bawah 30 ppm, dianggap toksik bila memiliki nilai LC50 30-1000 ppm dan dianggap tidak toksik bila nilai LC50 di atas 1000 ppm (Meyer et al., 1982). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ekstrak fucoidan Sargassum filipendula  bersifat sangat toksik terhadap Artemia salina Leach.

Hasil Uji Pengaruh Ekstrak Kasar Fucoidan dari Alga Coklat Sargassum Filipendula Terhadap Sel Hela
Ø Ciri – ciri sel yang mati dan yang hidup
 

Uji pengaruh ekstrak kasar fucoidan terhadap sel hela dilakukan dengan metode langsung. Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan larutan trypan blue pada setiap sumuran agar dapat membedakan sel yang hidup dan yang mati. Ciri – ciri sel yang mati akan terlihat berwarna gelap atau biru dan bentuknya tidak bulat lagi karena mengalami lisis sehingga protein dalam plasmanya akan berikatan dengan biru trypan sehingga sel menjadi berwarna biru. Sedangkan ciri – ciri sel yang hidup masih terlihat berbentuk bulat, jernih dan lebih terang karena tidak mengalami kerusakan pada membran selnya. Jumlah sel HeLa yang mati dan yang hidup  dapat dilihat pada Tabel 2.



      Tabel Jumlah sel HeLa yang hidup dan yang mati
Dosis Ekstrak Kasar Fucoidan (µg/ml)
Keterangan
Jumlah
(sel/ml)
0
Mati
-
Hidup
101.104 ± 8,02
5
Mati
7.10± 2,00
Hidup
74.10± 18,18
10
Mati
11.104 ± 2,31
Hidup
48.104 ± 12,12
20
Mati
27.104 ± 7,64
Hidup
21.104 ± 2,65




Dosis ekstrak kasar fucoidan yang digunakan pada uji viabilitas yaitu 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml dengan kandungan air sebesar 99,25%. Pembuatan dosis 5 µg/ml membutuhkan 5 µg ekstrak kasar fukoidan dalam 100ml media, sedangkan pembuatan dosis 10 µg/ml membutuhkan 10 µg dalam 100ml media dan untuk pembuatan dosis 20 µg membutuhkan 10 µg dalam 100ml media.

Ø Pengaruh Dosis Ekstrak Kasar Fucoidan Terhadap Viabilitas dan Kematian Sel Hela
Persentase (%) viabilitas sel hela didapatkan dari pembagian jumlah sel yang hidup dengan total seluruh sel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase viabilitas rata-rata dari larutan ekstrak uji dengan dosis 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml secara berturut-turut adalah 100%; 90,81%; 80,69% dan 47,78%. Data tersebut menunjukkan bahwa viabilitas sel HeLa setelah diinkubasi selama 24 jam mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya konsentrasi larutan uji. Berdasarkan perhitungan analisis keragaman, didapatkan hasil bahwa F hitung lebih besar dibandingkan F tabel 5%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa  pemberian ekstrak kasar fucoidan dari Alga Coklat Sargassum filipendula dengan empat perlakuan dosis berbeda berpengaruh nyata dalam menurunkan persentase (%) viabilitas sel HeLa. Persentase viabilitas sel hela yang terpapar ekstrak kasar fucoidan dapat dilihat dalam diagram batang pada Gambar 3.


  
Pada Gambar di atas terlihat bahwa hasil terendah persentase (%) viabilitas sel hela terdapat pada dosis 20 µg/ml dan hasil tertinggi persentase (%) viabilitas sel Hela pada dosis 0 µg/ml. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar pemberian dosis maka persentase (%) viabilitas sel Hela semakin menurun. Hasil analisis BNT 5% sebesar 8,45, pada dosis 0 µg/ml; 5 µg/ml, 10 µg/ml ;  20 µg/ml diperoleh secara berturut-turut notasi d, c, b dan a. Berdasarkan hasil notasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kasar fucoidan dari dosis 0 µg/ml berbeda nyata dengan 5 µg/ml ; 10 µg/ml ; 20 µg/ml, untuk dosis  5 µg/ml berbeda nyata dengan 0 µg/ml ; 10 µg/ml 20 µg/ml, untuk dosis 10 µg/ml berbeda nyata dengan 0 µg/ml ; 5µg/ml; 20 µg/ml dan dosis 20 µg/ml berbeda  nyata dengan ; 0 µg/ml ; 5 µg/ml ; 10 µg/ml. Menurut (Pudji et al., 2000), ekstrak spons laut A. suberitoides yang diujikan terhadap viabilitas sel HeLa selama 24 jam dengan konsentrasi 33,491 µg/ml , 66,983 µg/ml  dan 133,967 µg/ml memiliki persen viabilitas secara berurutan yaitu 62,579%, 55,486% dan 52,551%. Dari penelitian tersebut didapatkan persen viabilitas terendah pada konsentrasi 133,967 µg/ml dengan persentase 52,551% sebagai hasil terbaik. Persentase kehidupan dari ekstrak spon laut A. suberitoides masih lebih tinggi dibandingkan ekstrak kasar fucoidan Sargassum filipendula. Oleh karena itu ekstrak kasar fucoidan dari Sargassum filipendula bekerja  lebih baik sebagai zat antikanker terhadap sel HeLa apabila dibandingkan ekstrak spons laut A. suberitoides.

Zat antikanker yang dihasilkan dari tanaman, terutama produk alamiah seperti ekstrak, mempunyai mekanisme yaitu menghambat proses mitosis pada metafase. Zat aktif yang terdapat pada ekstrak tanaman obat tersebut akan terikat pada protein mikrotubular, tepatnya tubulin pada GTP, dan akan menghambat kemampuan tubulin untuk berpolimerasi membentuk mikrotubulus sehingga menghambat pemisahan kromosom dan proliferasi (Tjay Rahardja, 2002). Aktivitas sebagai antikanker ini disebabkan adanya gugus OH− pada yang berikatan dengan protein integral membran sel. Ikatan tersebut menyebabkan terbendungnya transpor Na+ dan K+ sehingga pemasukan ion Na+ ke dalam sel tidak terkendali dan menyebabkan pecahnya membran sel. Pecahnya membran sel inilah yang menyebabkan kematian sel (Scheuer, 1994). Tanaman yang dijadikan sebagai antitumor atau antikanker harus mengandung senyawa metabolit sekunder yang aktif dengan 3 sifat yaitu antitoksik, sitostatik, dan antiangiogenesis. Sifat antitoksik adalah kemampuan untuk mengeliminasi keganasan racun yang dihasilkan oleh sel-sel tumor, sedangkan sifat sitostatik merupakan kemampuan metabolit sekunder dalam menghambat pertumbuhan sel tumor dan melisis sel-sel tumor (Murakami et al. 1996). Sifat antiangiogenesis ialah kemampuan untuk memutuskan pasokan makanan dan oksigen dengan menghentikan aliran darah  (Hanahan dan Weinberg 2000).

Persentase (%) kematian sel hela didapatkan dari 100% dikurangi persentase viabilitas sel hela. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase kematian rata-rata dari larutan ekstrak uji dengan konsentrasi dosis 0 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml secara berturut-turut adalah 0%; 9,19%; 19,31% dan 52,22%. Data tersebut menunjukkan bahwa kematian sel HeLa setelah diinkubasi selama 24 jam mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya konsentrasi larutan uji. Berdasarkan perhitungan analisis keragaman didapatkan hasil bahwa F hitung lebih besar  dibandingkan F tabel 5%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa  pemberian ekstrak kasar fucoidan dari Alga Coklat Sargassum filipendula dengan empat perlakuan dosis berbeda berpengaruh nyata dalam meningkatkan persentase (%) kematian sel HeLa. Persentase kematian sel Hela yang terpapar ekstrak kasar fucoidan dapat dilihat dalam diagram batang pada Gambar 4.

 

Pada Gambar 4 terlihat bahwa hasil terendah persentase (%) kematian sel Hela terdapat pada dosis 0 µg/ml dan hasil tertinggi persentase (%) kematian sel Hela pada dosis 20 µg/ml. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar pemberian dosis ekstrak maka persentase (%) kematian sel Hela semakin meningkat. Hasil analisis BNT 5% sebesar 8,45, pada dosis 0 µg/ml ; 5 µg/ml ; 10 µg/ml ; 20 µg/ml diperoleh secara berturut-turut notasi a, b, c dan d. Berdasarkan hasil notasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kasar fucoidan dari dosis 0 µg/ml berbeda nyata dengan 5 µg/ml ; 10 µg/ml 20 µg/ml , untuk dosis 5 µg/ml berbeda nyata dengan 0 µg/ml ; 10 µg/ml ; 20 µg/ml , untuk dosis 10 µg/ml berbeda nyata 0 µg/ml ; 5 µg/ml ; 20 µg/ml dan dosis 20 µg/ml berbeda  nyata dengan ; 0 µg/ml ; 5 µg/ml ; 10 µg/ml.

KESIMPULAN 
-   Karakteristik ekstrak kasar fucoidan yaitu kadar air sebesar 99,25%, kadar abu sebesar 0,28%, rendemen sebesar 1,15% (BK), panjang gelombang UV-Vis sebesar 261 nm, spektrum infrared ikatan O-H pada panjang gelombang 3446.45cm-1, ikatan C=O pada panjang gelombang 1639.38 cm-1 dan gugus sulfat pada panjang gelombang 1014.49 cm-1 dan 10.54.99 cm-1
-   Pemberian ekstrak kasar fukoidan Alga Coklat Sargassum filipendula mampu membunuh dan menghambat aktivitas sel kanker Hela dengan dosis ekstrak kasar fucoidan yang terbaik dalam menghasilkan persentase (%) viabilitas terendah sel Hela dan persentase (%) kematian sel Hela tertinggi yaitu pada dosis 20 µg/ml dimana dengan jumlah rata-rata persentase (%) viabilitas sel Hela sebesar 47,78 % dan rata-rata persentase (%)  kematian sel Hela sebesar 52,22%.
 
DAFTAR PUSTAKA
Bilan M .I , A. N. Zakharova, A. A. Grachev, A. S. Shashkov, N.E. Nifantiev, and A. I. Usov. 2006. Fucoidan From The Pacific Brownalga Analipus Japonicus ( Harv.) Winne. Journal Of Polysaccharides Of Algae: 60.

Bilan, M.I., A.N Zakharova ., A.A.Grachev., A.S.Shashkov., N.E. Nifantiev., A.I. Usov. 2007. Polysaccharides of algae: 60. Fucoidan from the pacific brown alga Analipus japonicus            (Harv.) winne (Ectocarpales, Scytosiphonaceae). Russ. J. Bioorg. Chem., 33, 38–46.

Chapman,V.D., J. Chapman. 1980. Seaweed and Their Uses. 3 Edition. Chapman and Hall. London.

Costa, L.S., G.P. Fidelis., S.L.Cordeiro., R.M.Oliveira., D.A.Sabry., R.B.G. Câmara., L.T.D.B.,Nobre., M.S.S.P. Costa., J.L. Almeida., E.H.C. Farias., E.L. Leite., H.A.O. Rocha. 2010. Biological activities of sulfated polysaccharides from tropical seaweeds. Biomed. Pharmacother. 64, 21–28.

Cristiane,M.R., De Souza., C.T. Marques ., D.C. M. Guerra., . F. R. F. Da Silva., Rocha, And .E. L. Leite. 2006. Antioxidant Activities Of Sulphated Polysaccharides From Brown And Red Seaweeds. Springer Science + Business Media B.

Djajanegara, I dan W. Prio. 2009. Pemakaian Sel Hela dalam Uji Sitoktosisitas Fraksi Kloroform dan Etanol Ekstrak Daun Annona squamosa. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. Hal 7-11

Hadi, A. 2009.  Spektrofotometri. Erlangga, Jakarta

Hanahan, D dan R.A. Weinberg. 2000. The Hallmarks of Cancer. J Cell  100:57-70.

Khurniasari, D. W. 2004. Potensi Antikanker Senyawa Bioaktif Ekstrak Kloroform dan Metanol Makroalgae Sargasssum duplicatum J, Agard. Skripsi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Jogjakarta

Meyer, B.N., N.R. Ferrigni., J.E. Putnam., L.B. Jacobson., D.E. Nicholas., J.L.Laugnin. 1982. Brine shrimp ; A Convident General Bioassay for Active plant Constituent, Plant. Medica. 31:34-45.

Murakami, A., A. Ohogasi ., K. Koshimazu. 1996. Anti tumor promotion with food phitochem: a strategi for cancer chemofrevention. J perfumer and flavorist. 9: 27-29.

Pudji, A.D.N., Sukardiman., H,T. Fadjri. 2000. Uji Sitotoksisitas Dan Efek Ekstrak Spons Laut Aaptos Suberitoides Terhadap Sel Kanker Serviks (Hela) Secara In Vitro. Hal 1-15

Rehma, N. 2012. Prinsip kerja spektrofotometer. http://rehmannisa. blogspot.com/2012/04/tipe-instrumen -spektrofotometer.html. Diakses tanggal 17 Juni 2012 Pukul 12.00 WIB.

Rioux L. E., S. L. Turgeon., M. Beaulieu. 2007.  Journal Of Charcterization Of Polysaccarides Extracted From Brown Seaweeds. Institute Des  Nutraceutiques Et’ Des Aliments Factionels, Faculte’ Des Sciences De’ Agriculture Et De’ Alimentation, Universite Laval. Que. Canada.

Satari, R. 1996. Potensi Pemanfaatan Rumput Laut. Puslitbang oseanografi – LIPI. Jakarta. Hal 152

Scheuer, J. S. 1994. Produk Alami Lautan. Cetakan pertama. IKIP Semarang Press. Semarang.Hanahan weinberg 2000

Shevchenko, N.M.., T.A. Kuznetsova., N.N. Besednova., A.N. Mamaev., A.P.Momot., T.N.Zvyagintseva. 2003. Anticoagulant activity of fucoidan from brown algae Fucus evanescens of the Okhotsk sea. Bull. Exp. Biol. Med. 136, 471-473.

Subyakto, 2003. Toksikologi Jilid III. Bina Cipta Jakarta. 127 hal

Sudarmadji, S.B.Haryono dan Suhardi, 1992. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian, Liberty, Yogyakarta.


Tjay, T dan K. Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting, Penggunaan Dan Efek-Efek Sampingnya. Ed V. Jakarta : Dirjen POM Depkes RI, hal. 197-8, 206-17

Yunizal. 1999. Teknologi Pengolahan Alginat. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Zhang, Q., L. Ning ., L. Xiguang.,Z. Zengqin., L. Zhien And X. Zuhong. 2003. The Structure Of A Sulfated Galactan From Porphyra Haintanensisand Its In Vivo Antioxidant Activity. Institute Of Oceanology, Chinese Academy Of Sciences, Qingdao 266071, Prchina.

Zvyagintsevaa, T.N., N.M.Shevchenko., A O. Chizhovb, T.N. Krupnovac, E. V. Sundukovaa., And V. V. Isakova. 2003. Water-Soluble Polysaccharides Of Some Far-Eastern Brown Seaweed. Distibution, Structure, And Their Dependence On The Developmental Conditiions. Journal Of Experimental Marine Biology And Ecology 294 (2003) 1-13